CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 02 Oktober 2013

Perjalanan Hidup Manusia


Kelak, akan ada hari. Dengan izinNya, dimana Allah menjadi saksi. Saat terlingkar sebuah ikatan suci, aku memberinya nama "Mitsaqan Ghaliza", yang menghiasi jemari, walau aku pasti tak akan sesempurna istri nabi.
Namanya istimewa, "Mitsaqan Ghaliza". Bagiku kalimat itu memiliki kesakralan tersendiri, begitu suci, karena disaat itu aku telah berhasil menumbangkan keakuanku, dan ketakutanku tentang itu, mungkin aku kaku dan dingin terhadap rasa atau percakapan, namun ketika aku menyayangi, aku yakin bukan tanpa sebab, semua takdir pilihanNya, dan dia berhasil mencairkan dan meyakinkan rasa, seakan berkata, "tenanglah bersamaku, dengan izin allah, hingga akhir akan baik-baik saja."
Mitsaqan Ghaliza, sebuah kalimat yang memiliki arti luar biasa, tidak hanya secantik namanya, namin juga sekokoh ikrar yang digenggamnya. Ia adalah perjanjian yang kokoh, dalam kesakralan suci yang mengikat dua hati. Suatu perjanjian agung yang berat, seberat pengorbanan kasih sayang seorang qowwam, bagiku. Bagaimana tidak? Karena saat ijab qabul terlafadz, gemuruh seakan mengguncang langit Arsy-Nya, karena telah terucap perjanjian dan tanggungjawabnya di hadapan Allah, dengan disaksikan para malaikat, dan di aamiin-kan oleh seluruh hamba Allah yg menjadi saksi. Allahu Akbar!
Maka bagiku, betapa tinggi derajat qowwam, karena jikapun makmum mampu menghisap darah dan darah dari pada hidung sang qowwam, itu belum cukup menebus semua pengorbanan kasih sayang yang diberikannya. Maka tidak salah menurutku jika Allah meletakkan surga seorang istri di keridhoan suami, karena jangankan mencium surga, Allah tidak akan izinkan jika seorang istri durhaka pada suaminya, selama suaminya menyuruhNya dalam agama dan kebaikan. Naudzubillah yaa rabb :')
Begitu agung janji seorang qowwam, seandainya setiap makmum memahamkan, bagaimana tidak? Kelak seorang qowwam akan bertanggung jawab, atas makmum dan anak-anak perempuannya di hadapan Allah. Masya Allah :')
Teringkat olehku sebuah hadits, "Tidak dibenarkan manusia, dan kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, Allah akan memerintah wanita sujud kepada suaminya, karena besarnya jasa (hak) suami terhadap istrinya." (HR. Ahmad)
Mitsaqan Ghaliza, manis namun sangat filosofis, bahkan dalam al qur'an namanya disebut sebanyak tiga kali, di dalam QS. 33: 7, QS. 4: 154, QS. 4: 21. Subhanallah! :')
Kelak akan terpelajari bahwa kebahagiaan orang tua bukan diukur dari seberapa besar materi yang kita beri, melainkan sebuah kebahagiaan dalam hati yang tiada dapat terukur dengan materi. Sebuah air mata indah yang mengalir dari mata ayah, dan ibu. Sebuah simpul senyum kebanggaan yang teramat karena dapat mengantarkan sang putra kesayangan menuju pelaminan, serta rasa haru yang hadir teramat sangat karena menyerahkan dan menikahkan seorang putri tercinta dengan seseorang pilihan atas ridhaNya untuk menggantikan tugas mulianya sebagai seorang ayah, kepada seorang laki-laki muda yang dicintai putriNya karenaNya. Pada ibu, adakah pemandangan yang lebih indah, selain melihat putra-putri kesayangannya tersenyum bahagia dia atas altar suci karena kasih sayang rabbNya?
Dan setelahnya, akan terdapat perubahan besar bak mahakarya agung sang maha cinta, seorang gadis kecil dalam pandangan ayah ibunya, yang selama ini berada dalam kasih sayang orang tua tercintanya, yang selama ini menghabiskan hari-hari indah bersamanya, akan berubah menjadi perempuan dewasa nan tangguh, menjadi seorang istri, menjadi seorang makmum dan sahabat bagi suami, dan menjadi tokoh pendidik pertama bagi anak-anaknya, mengabdikan tugas mulia Rabb-Nya, yang telah diamanahkan terhadapnya.
Berapa sakral dan istimewanya, Mitsaqan Ghaliza :')
Setelahnya bukan berarti tanpa uji, teringat sebuah tausiyyah "Bahwa cinta sejati tak akan berhenti pada sekali uji." Dan disaat itu seakan diberikan sebuah soal ujian, apakah diselesaikan ataukah menyerah? Pada jiwa yang mencintai karenaNya, tidak akan ada kata menyerah. Karena terlalu banyak rindu yang Allah titipkan pada cerita yang sedang dijalani.
Disaat jiwa tak dapat menjabarkan kecemasan yang membelenggu, ketika cemburu menghampiri, dan keterbatasan yang tidak selalu bisa mengawasi saat indra peraba dan penglihatan menjadi jeda, maka bagiku disaat nanti, aku hanya bisa menyampaikannya ke Arsy Penguasa Hati, agar dia yang menjaga hatimu, untuk diriku. Dan kelak, aku memilih untuk mencintai dengan hati-hati, dimana setiap anak tangganya aku berjalan perlahan namun pasti, tapak-tapak langkah berbalut do'a pada ilahi.
Aku teringat, ada sebuah pepatah mengatakan, "Pejuang sejati adalah ia yg tau, kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus diam menyusun strategi." Dan jika aku diam, percayalah bukan karena aku marah atau jemu, alasanku adalah karena aku ingin sesekali bertindak sebagai murid terbaik, untuk itu aku harus mempelajarimu, aku harus diam dan fokus memperhatikanmu. Memperhatikan ketegasanmu, nasehatmu, sedihmu, ataupun senyu bahagiamu. Dan aku paham, setiap orang suka di dengarkan, begitupun denganmu, bisa jadi itu sebuah nasihat, pesan, komentar, marah, dan kisah perjalanan hidupmu, ya saat itu aku harus diam, menciptakan hening, menghitung jumlah bicara agar aku tak kehilangan fokus dan makna, sebab bagiku mengecewakanmu adalah pantangan, walaupun tiada mungkin aku sempurna, setidaknya aku mencoba untuk terus belajar.

Dan saat itu bagiku anugerahmu adalah kelebihan bagiku, dan kekuranganmu akan menjadi hal yang membuatmu levih kucintai, sebab kekuranganmu bagaikan debu yang menerpa mataku, ketika aku berkedip, maka air mata akan menetralisir, dan kemudian debu itu luruh dan berakhir. Sebab kekuranganmu bukan masalah besar, karena aku sadar, tentu bukan kau orang yang diinginkan untuk melingkarkan cincin di jari manisku, yang kusebut tadi Mitsaqan Ghaliza, jika aku tak bisa mencintai keseluruhanmu. Sebab di saat itu, hanya dimataku saja kamu berwujud malaikat, tapi di dunia nyata kamu tetaplah manusia yang bukan tanpa cacat, dan saat itu ada porsi imbang antara mata dan nyata, dan yang kucintai adalah seorang manusia, bukan malaikat, jadi tak perlulah sempurna tanpa cacat, karena akupun bukan seorang bidadari.
Dan saat itu aku berharap, tetaplah disisiku, aku ingin bahagia dengan belajar membahagiakanmu, menjadi bagian kehidupanmu, bukan sekedar angan-angan ataupun sebuah kenangan. Dan tak melulu soal materi, ada saatnya nanti rumah sederhana menjadi serupa syurga, karena hati adalah rumah terbaik yang kita punya, dan bisa tinggal dihatimu saja itu sudah merupakan suatu hal istimewa. Saat terlelah, akan ada saat berusaha untuk menjadi penyejuk pandangan, yang tertatap lekat berbagi kisah sebelum mata terpejam, agar tidur dalam tenang, dengan berbagi dan meraih solusi. Dan saat pagi menjelang, akan selalu ada memori yang terpampang di retinaku.
Di saat kaki berlutut, dan keningku menyentuh bumi, disaat itulah aku berdo'a agar selalu kekal hingga jannahnya dan terjaga, karena bukan dalam waktu singkat, kelak ada masanya kau menjadi bahuku saat aku terpuruk, menjadi penenang saat aku gelisah, menjadi penyeka air mata kala air bumi harus tumpah.

Selasa, 01 Oktober 2013

Untuknya KarenaNya



Ketahuilah…

Sesungguhnya tidaklah aku ingin menikah melainkan karena aku tidak ingin mati dalam keadaan agamaku ini hanya setengah. [1]

Dan tidaklah aku ingin menjadi orang yang menikah melainkan karena aku meyakini janji Alloh bagi orang yang menikah itu benar adanya. Tahukah kau bahwa setiap hubungan suami isteri yang halal itu adalah sedekah yang dapat mendatangkan pahala?! [2]

tahukah kau bahwa hanya dengan merengkuh tangan isteri maka berguguranlah dari jari jemari dosa-dosa?! [3]

dan tahukah kau bahwa bila seorang isteri meninggal dunia sementara suaminya dalam keadaan ridha padanya maka ia akan masuk surga?! [4]

dan bila semasa hidup dia taat kepada Alloh dan taat pula kepada suaminya maka ia boleh memasukinya dari pintu mana pun yang ia suka?! [5]

Duhai, calon suamiku…
Tidak lah aku ingin menjadi seorang isteri melainkan karena janji Alloh yang satu ini. Karena sesungguhnya aku takut mengetahui bahwa penghuni neraka itu kebanyakan wanita. [6]

Dan hanya kepada Allah aku berharap perlindunganNya dan petunjukNya di manapun aku berada.

Wahai calon suamiku…
Telah ditakdirkan Allah bahwa akhirnya engkau memilihku. Semoga inilah perlindungan dan petunjuk yang Dia berikan agar aku bisa mendapatkan kebenaran janji Allah itu.

Namun, wahai calon suamiku. Aku ingin kau menyadari bahwa aku bukanlah makhluk yang sempurna seperti juga dirimu. Maka mengertilah bahwa setelah kita menikah nanti akan banyak hal baru yang akan sama-sama kita ketahui. Insya Allah, akan kujaga apa yang harus kujaga darimu, dan kuharap kau pun menjaga apa yang harus kau jaga dariku. [7]

Bila kau menemukan ketidaksukaanmu padaku karena kekuranganku. Maka bersabarlah, calon suamiku. Karena kadang-kadang pada sesuatu yang tidak kau sukai, Allah menjadikan kebaikan padanya. [8]

Temukanlah kelebihan yang kau sukai dari diriku, bukankah kau memiliki alasan mengapa kau ingin menikahiku?! [9]

Tetapi, wahai calon suamiku. Bila ketidaksukaan yang kau temukan itu adalah karena kesalahanku, maka nasehatilah aku, pisahkanlah tempat tidurku dan pukullah aku bila akhirnya aku meninggalkan kewajibanku. [10]

Namun janganlah kau bermaksud menyakitiku hingga membahayakan hidupku karena aku adalah bagian dari dirimu. [11]

Janganlah kau luruskan kebengkokanku, karena aku bisa patah [12]

Tetapi berhati-hatilah terhadapku, karena aku bagaikan gelas kaca [13].

Ingatlah bahwa manusia yang baik adalah yang baik pada keluarganya, dan lelaki yang baik adalah yang baik pada isterinya. [14]

Dan cukuplah engkau menjadikan aku seseorang yang patuh kepadamu dengan menjadi seseorang yang pantas aku patuhi. Sehingga aku mempunyai alasan mengapa aku harus berhias setiap hari, dan mengapa aku harus menjaga diriku, kehormatan dan juga hartamu saat kau tidak ada di sisi. [15]

Jadikanlah aku sebaik-baik perhiasan duniamu [16],

hartamu yang paling berharga [17]



*Footnote

1.     Hadits Riwayat Al-Hakim, artinya: Barangsiapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.

2.     Hadits Riwayat Muslim, artinya: dan kalian jima’ dengan isteri pun sedekah. Bukankah bila syahwat disalurkan pada tempat yang haram maka akan mendapatkan dosa? Maka demikian pula bila disalurkan pada tempat yang halal, maka akan mendapatkan pahala.

3.     Riwayat Maisarah, artinya: Sungguh, ketika suami isteri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan keduanya dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan isteri (meremas-remasnya), berguguranlah dosa-dosa keduanya dari sela-sela jari-jemari.

4.     Hadits Riwayat Ibnu Majah, artinya: Siapapun wanita yang meninggal dunia sedang suaminya meridhainya maka dia akan masuk surga.

5.     Hadits Riwayat Ath Thabrani, artinya: jika seorang wanita mengerjakan shalat  5 waktu, berpuasa satu bulan penuh (Ramadhan), dan mentaati suaminya, maka hendaklah ia memasuki dari pintu surga manapun yang dia kehendaki.

6.     Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Telah diperlihatkan api naar kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah kaum wanita.

7.     (a) Hadits Ibnu Abi Syaibah, artinya: Di antara manusia yang paling rendah derajatnya di sisi Allah padahari kiamat adalah seorang suami yang jima’ dengan isterinya lalu menyebarkan rahasianya. (b) Hadits At Tirmidzi, artinya: dan hak kalian (suami) atas mereka (isteri) adalah mereka tidak mengajak orang yang kalian benci untuk mendatangi tempat tidur kalian serta tidak mengizinkan orang yang kalian benci memasuki rumah kalian

8.     An Nisa’: 19, artinya: Dan bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

9.     Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Seorang wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunanannya,, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.

10.  An Nisa’: 34, artinya: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (meninggalkan kewajiban sebagi isteri), maka nasehatilah, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

11.  (a) Al-Hujurat: 10, artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (b) Hadits Riwayat: artinya : Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta kasih, dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka seperti satu jasad (tubuh) apabila satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh jasadnya ikut merasa sakit.

12.  Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Bersikap baiklah terhadap wanita. Karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas. Kalau kamu berusaha meluruskannya, maka ia akan patah.

13.  Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Wahai Anjasyah, perlahanlah, sebab bawaanmu adalah gelas-gelas kaca.

14.  (a) Hadits Riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah, artinya: sebaik2 kalian adalah yang baik kepada keluarganya. (b) Hadits Riwayat Imam Hakim: artinya: sebaik-baik kalian adalah yang baik kepada isterinya

15.  Hadits Riwayat Ahmad, artinya: Apakah kalian mau saya beritahu tentang simpanan seseorang yang paling berharga? Yaitu wanita sholihah yang suaminya menjadi bahagia bila memandangnya, bila diperintah segera dipenuhi, dan bila suaminya tidak ada dia menjaga kehormatannya.

16.  Hadits Riwayat Muslim, artinya: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.

17.  Lihat No. 15

Subhanallah........................................


(* Saya baca dari salah satu blog yang insyaAllah bermanfaat. Aamiin. )

Senin, 30 September 2013

Dari Impian Jadi Pimpinan



Teruntuk ananda tersayang, yang kini masih berada dalam alam impian dan rencana Tuhan

Ananda tersayang, dalam lembaran kertas ini bunda ingin menuliskan kisah yang kelak akan bunda sampaikan secara lisan pula jika dengan izinNya, ananda telah terlahir sebagai anugerah terindah dari sang pencipta, sejarah kehidupan yang berharga bagi ayah dan bunda nantinya.

Sayangku, bundamu ini jauh dari sempurna, mungkin masih perlu banyak belajar untuk sehebat ibu-ibu lainnya. Nak, bundamu pastilah memiliki banyak kekurangan sebagai seorang hamba, dan masih terus belajar akan kesabaran cinta seorang ibu yang layaknya samudera dalam pelayar hidup putra-putrinya.

Sayangku, mengikuti pertumbuhanmu hingga dewasa dan menemukan kehidupanmu adalah keistimewaan untuk ayah dan bunda. Maka kelak jika ibu-ibu lain mungkin mendidik dan mengajar putra-putrinya dengan kemanjaan, bunda berusaha tidak demikian.

Maaf nak, jika bunda tidak merealisasikan rasa sayang melalui mainan mahal, fasilitas mewah, kehidupan yang serba ada dan ananda dapat tinggal meminta, dan lain sebagainya.

Nak, maafkan ketidaksempurnaanku sebagai seorang ibu, namun itulah caraku menyayangimu. Bila kelak ayah dan bunda mendapatkan amanah Tuhan atas kemapanan hidup, bunda memilih untuk menginvestasikannya pada pendidikanmu, mengikuti pengajian agar ananda dapat lebih mengenal Tuhan, mengikuti les tambahan yang ananda minati misalnya, ananda boleh mengikuti les bahasa, musik, menggambar, atau apapun itu selama dalam kebaikan dan ananda dapat mempertanggungjawabkan prestasi disekolah, dan menyeimbangkan pendidikan formal dan informal yang kelak ananda pilih dan tentukan.

Nak, bukan tak menyayangimu karena bunda tak serta merta menuruti kemauanmu yang mungkin seperti teman-temanmu lainnya, dengan fasilitas hiburan dirumah yang serba wah, mainan yang mengikuti trend terkini dan selalu berubah, serta fashion dan gaya modernisasi yang serba bermerek untuk dikenakan.

Nak, percayalah semua bunda lakukan karena bunda menyayangimu, dan semua fasilitas yang ada memiliki standart usia penggunanya, karena bunda tak ingin ananda menjadi anak yang pasif dan lupa akan sekeliling karena terlalu asik bergadget ria, sementara disekelilingmu ada banyak jiwa yang dapat ananda ajak bersosial dalam nyata. Bila tidak membelikanmu mainan mewah bukan karena bunda tak cinta, tapi bunda ingin ananda menikmati proses tak serta merta menikmati hasil yang sudah ada, kita dapat membuat mainan bersama ayah memanfaatkan bahan dan alam yang ada, membuat mobil-mobilan dari sandal using misalnya, atau melukis pakaian dengan gambar kreasimu nan menawan, karena bunda berharap kelak seiring usiamu bertambah dewasa, ananda dapat menghargai sekeliling dan tidak menjadi tinggi hati dan merendahkan sesama. Pada fashion dan gaya modernisasi, kita boleh menghargainya nak, tapi tidak menjadikannya patokan nilai untuk dikenakan, sebab anakku kau akan tetap tampan dan cantik dengan menggunakan produk dalam negeri, buatan rakyat Indonesia, dan membantu mereka pula untuk mensejahterakan ekonomi dan social keluarganya, sebab produk negeri yang adapun tak kalah dengan asing, dengan kualitas yang juga baik, dan ananda pun nyaman mengenakannya. Nak, siapa lagi yang akan melestarikan produk dalam negeri, jika bukan penduduk negeri itu sendiri? Sementara dengan keinginan akan keternamaan sebuah produksi, dan kita menjadi tega produk dalam negeri menjadi mati suri, dan berakibat para produsen tak jarang yang gulung tikar, dan nasib kehidupan keluarga mereka terlunta tanpa pasti.

Nak, kita perlu memahami merdeka sebenarnya, dimana kita mampu berdiri sendiri dan tidak tergantung pada asing, dan mewariskan pada generasi selanjutnya kekayaan negeri, agar generasi selanjutnya tak hanya mengenal hanya dari nama dan gambar yang di tunjukan. Anakku sayang, percayalah nak apa yang ayah dan bunda usahakan bukanlah tanpa sebab akibat, semua karena kami menyayangimu, meski dengan cara yang berbeda, namun kelak seiring masa ananda akan memahami nilainya.

Anakku terkasih, kelak pada usia dewasa dan ananda ingin menentuka pendidikan tinggi, tidaklah ayah dan bunda memaksa ananda untuk memilih pendidikan yang sesuai keinginan kami, karena tugas kami hanya mengarahkan, dan mengusahakan yang terbaik untuk putra-putri tercinta, dan engkau perlu tahu nak, pilihlah semua dari hati, mohonlah petunjuk pada Tuhan, dan sertakan Tuhan pada setiap langkah dan perjalananmu, juga pada keputusan. Ananda, pada fase ini karena engkau sudah dewasa dan memiliki penilaian akan pilihan untuk memilih dan mempertanggungjawabkan, bukan kepada ayah bunda nak, namun kepada Tuhanmu, Negaramu, dan Rakyat yang menjadi penduduk negerimu, optimalkan kemampuanmu nak, dan berikanlah yang terbaik bagi agama, bangsa, dan negaramu. Percayalah nak, dengan kemanfaatan yang dapat kau beri, engkau akan merasakan hidupmu lebih berseni.

Anakku terkasih, ayah dan bunda memiliki pilihan yang mungkin tak akan sama dengan orang tua teman-temanmu nanti, mungkin jika kelak seperti saat ini bahwa banyak orang tua yang mengarahkan putra-putrinya untuk menjadi karyawan pada perusahaan ternama atau pegawai negeri sipil, kelak kami sebagai orang tua dengan proses pendidikan dan pengajaran yang kami terapkan sejak dirimu ada, ayah dan bunda lebih memilih untuk menanamkan dan menerapkan jiwa entrepreneurship pada dirimu, agar dirimu mampu bersimpati dan empati terhadap sekelilingmu, menangkap peluang yang ada dijamanmu kelak dalam hal positif, dan menerapkan keahlian dan pendidikanmu agar bermanfaat bagi orang lain, negerimu, dan penduduknya, dan agar dirimu juga dapat menerapkan yang terajarkan dalam agama, untuk berbagi ilmu sebagai ladang bekal kelak juga di akhiratmu. Nak, dengan itu kamu dapat berusaha membantu para pengangguran sebab dengan pilihan kariermu itu engkau dapat membuka lapangan pekerjaan tak sekedar bermanfaat bagi para karyawanmu, namun juga keluarga dan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup layak dan sejahtera, dan anak-anaknya dapat menikmati bangku pendidikan yang menjadi hak setiap anak yang terlahir untuk belajar.

Nak, setiap kita terlahir dengan fitrah yang sama, yang membedakan hanyalah dimanfaatkan atau tidaknya peluang yang telah Tuhan berikan. Nak, selama engkau mampu jadilah pemimpin dari impian-impianmu, dan berusahalah untuk mewujudkannya, dengan do’a yang tiada terlupa kepada penciptamu, belajarlah dari orang-orang besar dan sukses akan kegigihan mereka mencapai apa yang mereka cita-citakan, dan bila kelak engkau telah berhasil janganlah sombong nak, pahami dan amalkanlah ilmu padi yang tetap merunduk, dan gunakanlah materi yang kelak kau dapatkan sesuai dengan kebutuhanmu, bukan mengikuti keinginanmu, bersyukurlah nak dengan segala yang dimiliki, sebab diluar sana masih banyak saudaramu yang harus menahan perihnya karena lapar, menahan dingin karena harus tinggal di jalan-jalan, dan banyak sekali nak yang bisa kau syukuri dalam proses hidupmu, tetaplah rendah hati, sebab tiada satupun yang kita miliki melainkan semua titipan Tuhanmu kepada diri.

Anakku sayang, selalu ada ujian dalam kehidupan yang kau jalani, tetaplah menggenggam semangat dalam pencapaian, namun juga tetaplah merendah sebab kita perlu waktu dimana dahi sejajar dengan tanah, dan dimana peran kita sebagai hamba untuk berkisah pada sang pencipta dalam memohon petunjuk serta ridhanya dalam kehidupan yang dijalani. Sebab tiada arti seorang hamba tanpa ridha Tuhan dan orang tuanya.

Anakku, saat kelak kau temui kerikil uji dan hampir membuatmu menyerah, ingatlah alasan mengapa kau memulai, percayalah pada Tuhanmu, dan teruslah melangkah, ayah dan bunda akan selalu disisimu, sebab kau adalah bagian dari hidup kami, dan amanah terindah kepada Rabb kami yang harus kami jaga dan berikan yang terbaik.

Nak, inilah aku bundamu dengan segala kekuranganku, namun semua itu ayah dan bunda berikan agar kita semua selalu belajar, dan kebersamaan kita tiada sekedar di fananya dunia, namun juga hingga akhirat sana, semoga Tuhan meridhai segala cita-cita dan usaha yang ada.

Nak, maafkan segala kesalahanku sebagai ibu, dan kami ayah bunda sebagai orang tuamu. Jadilah engkau pemimpin dari segala impianmu, dan bertanggungjawablah terhadap segala pilihanmu. Lalukan yang terbaik selalu selagi engkau mampu dengan izin Tuhanmu.

Salam sayang untukmu ananda,
Bunda…http://nutrisiuntukbangsa.org/dari-impian-jadi-pimpinan/

Minggu, 29 September 2013

Pembelajaran Al-Qur’an Sejak dalam Kandungan dengan rumus = R – U – M – U – S – A – B – C – D

Bismillahirrahmanirrahim. . .

“Apabila anak Adam meninggal dunia putuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim).

Setiap pasangan suami istri beriman pasti merindukan anak sholeh. Untuk memiliki anak yang sholeh, pasangan suami istri wajib berusaha menjadi sholeh terlebih dahulu. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa segala perilaku ibu dan bapak akan dicontoh putra-putrinya. Untuk itu, semua ibu bapak harus menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Setiap pasangan suami istri yang merindukan anak sholeh wajib memperbanyak amal mulia, makan dan minum hanya yang halal saja, menjaga sholatnya, indah akhlaqnya, lembut hatinya, semangat bekerja, berlaku taqwa dan terus-menerus berdzikir, memperbanyak membaca do’a.

Islam mengajarkan barangsiapa menginginkan lahirnya generasi unggulan ia hendaknya menyiapkan sejak memilih pasangan. Ini artinya dari pasangan suami istri yang sholeh-sholehah akan lahir generasi yang sholeh-sholehah pula. Anak sholeh bukan hasil kerja instan! Jelasnya, anak sholeh tidak bisa dilahirkan kecuali atas izin Allah Ta’ala dengan gigih kita mengusahakan. Anak sholeh tidak dilahirkan tapi diciptakan.

Berbicara tentang anak, Kita sah-sah saja mengharapkan ia kelak menjadi dokter, jenderal, ataupun presiden sekalipun. Tetapi menjadikannya sholeh-sholehah tetap prioritas utama! Mengapa?

Pertama, karena anak sholeh yang mendoakan ibu bapaknya adalah salah satu di antara tiga amal yang pahalanya mengalir tiada habis-habisnya.

Kedua, karena permohonan ampun anak sholeh, dapat mengangkat derajat orang tuanya dapat masuk surga.

Ketiga, karena anak sholeh adalah peredam amarah Allah Ta’ala.

Segala sesuatu tergantung pada pendidikan yang sebenarnya. Ibu dan bapak adalah guru pertama dan utama. Keluarga adalah pusat pendidikan yang sebenarnya. Al-Qur’an adalah materi pendidikan utama yang harus diberikan sebelum lainnya. Jangan menunggu umur enam tahun, jangan menunggu umur empat tahun. Mulailah sedini mungkin. Mulailah segera. Mulailah sejak dalam kandungan. Ingat umur empat tahun sudah sangat terlambat!

Salah satu terobosan dalam melahirkan anak sholeh adalah dengan mengajar bayi kita membaca Al-Qur’an sejak dalam kandungan. Apakah bisa? Insya Allah bisa!

Kita hanya membutuhkan kemauan, ketekunan, dan kesabaran. Sebagai bagian dari rasa syukur, inilah berita gembira untuk Kita.

Anak-anak kami hasil eksperimen program sekolah Al-Qur’an sejak dalam kandungan menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Maryam Arrosikha, empat tahun dapat membaca Al-Qur’an. empat bulan kemudian, dia dapat membaca cerita, buku, dan majalah berhuruf latin, bahkan di TK, ia khatam Al-Qur’an 30 juz. Aisyah Mujahida, adiknya, khatam membaca Al-Qur’an dan lancar membaca tulisan latin ketika di TK. Faqih Abdullah, anak kami yang ketiga sejak berusia 13 bulan, Alhamdulillah menunjukkan kesenangan membaca yang sangat tinggi. Dari pengalaman itu, kami menginginkan agar setiap bayi mendapatkan pelajaran Al-Qur’an sejak dalam kandungan. Insya Allah sangat bermanfaat.

Bagaimana caranya? Inilah pertanyaan yang paling sering disampaikan.

Jawabannya:


Rahasia sukses mengajar Al-Qur’an sejak dalam kandungan adalah:

R – U – M – U – S – A – B – C – D

Apa maksudnya?

R = Rumah. Maksudnya rumah adalah pusat pendidikan sejati.

U = Usaha. Maksudnya ilmu itu dipelajari.

M = Metodis. Maksudnya metodenya cocok dan menyenangkan

U = Upah. Maksudnya setiap prestasi anak hendaknya dihargai (dicium, peluk yang hangat, dan dipuji).

S = Sabar. Maksudnya ibu dan bapak harus betul-betul sabar. Ibu dan Bapak tidak boleh mengatakan jangan nakal sambil berlaku nakal (misalnya mencubit, memukul, menjewer, atau marah-marah).

A = Ajeg. Maksudnya pemberian stimulasi hendaknya diberikan secara ajeg, walaupun sangat sebentar.

B = Bermain. Maksudnya stimulasi diberikan sambil bermain. Dengan demikian, anak senang, orangtuapun senang.

C = Contoh. Maksudnya orang tua hendaknya ,menjadi contoh atau mentor.

D = Do’a. Maksudnya orang tua berdo’a untuk kesusesan anak. Di samping segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan do’a.

Siapapun yang ingin memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sejak dini ia tidak boleh melewatkan masa emas belajar anaknya.

- - - Masa emas belajar itu adalah saat bayi di kandungan, dan ketika bayi berusia nol sampai 4 tahun - - -
Singkatnya, pendidikan empat tahun pertama sangat menentukan. Pendidikan anak usia dini (0-6 tahn) lebih penting dibanding pendidikan dua puluh tahun yang diberikan kemudian. Sayang sekali, banyak yang mengabaikan pentingnya pendidikan usia dini.

Sudah saatnya semua ibu bapak memperhatikan nasihat Buckminster Fuller berikut ini.

 - - - “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupus kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.” - - -
Tugas seorang bayi bukanlah sekadar mami tipis (makan, minum, tidur, dan pipis (ngompol). Ajaklah anak Kita bermain. Janganlah biarkan ia kesepian, nganggur, dan bengong. Ajaklah ia belajar membaca sambil mengenal Tuhannya ALLAH TA’ ALA. Ikutilah metode pendidikan turunnya Al-Qur’an wahyu pertama.

Ajarilah anak Kita membaca Al-Qur’an sejak dalam kandungan.


- - - Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa. Aamiin - - -

Wallahu'alam bishawab

(Sumber: Drs. Mustofa AY, dengan penambahan dan sedikit di edit)



Jika Suatu Hari

Jika MENIKAH ibarat membangun sebuah RUMAH, Aku tidak ingin rumah yang MEWAH, Aku ingin rumah yang SEDERHANA, Dibangun dari keCINTAan terhadap Ilahi, Sholat berjamaah bersama setiap kali, Lantunan AYAT SUCI di penghujung MALAM dan SENJA pagi...

Jika MENIKAH ibarat menemukan seorang PANGERAN, Tidak perlu RUPAWAN paras pangeran,Yang membuat jatuh cinta adalah AKHLAQnya...
Tidak perlu JUTAWAN dari segi HARTA,Yang membuat tentram adalah LANTUNAN TILAWAHnya...
Aku inginnya, aku bisa menentukan TUJUAN, bersama SANG PANGERAN. Dengan panduan Al Quran & sunnah Nya...
Jika suatu saat nanti dengan izin illahi rabbi, Semoga bisa membangun rumah dengan keping terkecilnya. Belajar bersepeda, jatuh, dan mencoba lagi, bersama, berdua. Berjalan beriringan dengan pangeran, saling membantu dan mendukung, menuju jannah-Nya...

Aamiin...