Wahai Muslimah,
Engkau yang bersuamikan seorang pemilik azzam yang kuat, mengertilah bahwa suamimu nanti kadang tidak bisa hidup seperti suami-suami pada umumnya. Yang setiap saat bisa menemanimu. Atau yang setiap waktunya adalah kesibukan dalam mencari nafkah dan kebersamaan keluarga. Semakin kuat azzam dan kejujuran mereka, maka waktu yang tersisa untuk kalian sangatlah sedikit. Sadarilah itu.
Mengertilah bahwa goncangan hatinya teramat dahsyat, merancang strategi demi strategi, sebagai kontribusi kecilnya bagi agama ini. Maka maklumilah jika senyum dan kelembutan mereka kadang tenggelam dalam kesibukan memecahkan masalah umat, atau lelahnya ia karena terforsir energinya lantaran terus-menerus melawan ketakutan, demi melawan nafsu akan cinta semunya terhadap dunia.
Wahai perempuan, para istri dari lelaki pemilik azzam yang tangguh. Suamimu ibarat besi kokoh yang tidak selamanya mampu terus membahasai kalian dengan kelembutan. Terlebih di saat kondisi umat memanas seperti saat ini, maka maafkanlah jika sumbu api pendek amarahnya kadang memercik di hati kalian. Mereka mungkin terbawa perasaan. Mereka membutuhkan waktu-waktu menyendiri untuk memfokuskan diri pada strategi yang tengah ia rancang; strategi yang dapat mengorbankan darah dan kesenangan pribadinya.
Tabahlah membersamai mereka. Sebab mereka tengah membangunkan istana surga untuk kalian. Mengertilah bahwa keromantisan itu tidak selamanya berupa sutera yang dibalut kelembutan, namun juga ada pada tajamnya nasihat yang menoreh jiwa.
Mengertilah bahwa perhatian para suami yang jujur dengan azzamnya sebenarnya adalah sisa-sisa dari seluruh energi yang telah dicurahkannya di jalan jihad. Maka jangan terlalu berharap lebih, sebab mereka ibarat dagangan-Nya yang mulia. Maka ketika mereka masih mempunyai kesempatan mencandai kalian, jangan sampai kalian terlena dengan karunia ini. Tetap bersiap siagalah jika mereka tak berpulang padamu lagi.
Jangan melulu berharap keromantisan. Berikan mereka waktu-waktu untuk menyendiri, waktu-waktu untuk berkonsentrasi membangun strategi. Tetaplah taat, ringankan beban mereka. Sebab mereka adalah manusia-manusia langit, meski kaki mereka masih berpijak di bumi. Tetaplah membersamai mereka dalam goncangan dan lika-liku kehidupannya, meski berat.
Sabtu, 05 Oktober 2013
Karena Aku Masih Belajar
"Aku, tidaklah seperti Khadijah, Aisyah, Fathimah, maupun Maryam. Aku, hanyalah si rapuh yang mengagumi mereka. Aku, hanyalah si lemah yang jatuh bangun menelusuri jejak keshalihan mereka."
Perempuan tangguh itu bukan perempuan yang memiliki tubuh besar, bahu bidang atau tenaga ekstra kuat layaknya laki-laki. Tapi perempuan tangguh adalah mereka yang tetap tegar menjalani kerasnya kehidupan dengan segala pasang surutnya. Perempuan tangguh adalah mereka yang teguh melaksanakan syari’at-Nya, di tengah keterasingan. Tidak mudah terbawa arus, istiqamah menegakkan sunnah walaupun berat layaknya menggenggam bara api.
Perempuan tangguh adalah mereka yang menghiasi hidup dengan kesabaran, sebagai buah dari keimanan. Seperti sabarnya Ummu Sulaim radliyallaahu ‘anha tatkala buah hati tercintanya dipanggil oleh Pemiliknya. Ketika suaminya pulang dan bertanya tentang keadaan anaknya yang sedang sakit, ia menjawab, “Dia sekarang jauh lebih tenang daripada sebelumnya”. Kemudian ia tetap menyambut suaminya dengan biasa, berhias untuknya dan melayaninya dengan sebaik-baiknya. Setelah segala keperluan sang suami selesai, baru Ia mengabarkan kematian putranya tersebut kepada suaminya, dengan penuh ketenangan.
“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu pada keluarga si fulan; mereka meminjam sesuatu dan memanfaatkannya, kemudian ketika barang itu diminta mereka menolak mengembalikannya?” Suaminya menjawab, “Mereka tidak berlaku adil. Barang itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.” Ummu Sulaim melanjutkan, “Putramu adalah barang pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya kembali..”
Subhanallaah…
Perempuan tangguh itu, seperti tegarnya shahabiyah al-Khansa
“Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.”
Perempuan tangguh itu, mereka yang mampu mengkondisikan dirinya dalam berbagai keadaan. Cepat beradaptasi dengan kesulitan. Tidak mudah mengeluh dan menerima takdir Allah sebagai likuan hidup yang di dalamnya pasti terkandung kebaikan.
Perempuan tangguh itu, selalu bertawakkal kepada Allah atas segala sesuatu yang mungkin menimpanya. Seperti agungnya tawakkal Hajar Ummu Ismail ketika ditinggalkan oleh suaminya, Nabi Ibrahim Alaihissalam di padang yang tandus nan gersang. Ketika sang suami hendak melangkah meninggalkannya, Hajar bertanya:
“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk mengasingkan kami disini?”. Nabi Ibrahim menjawab, “Benar, ini adalah perintah Allah..” Kemudian Hajar berkata, “Kalau begitu maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan kami..”
Perempuan tangguh itu, memiliki azzam yang kuat untuk menuntut ilmu dan menuntut dirinya sendiri agar pandai. Karena ia adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ia lebih memilih membaca buku daripada ‘ngerumpi’ di rumah tetangga. Ia lebih merelakan waktu luangnya untuk belajar tahsin dan bahasa Arab daripada rutin mengikuti sinetron di televisi atau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tak bermanfaat di dunia maya.
Ia rela mengorbankan waktu, harta dan tenaga, menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri majelis-majelis ilmu. Walaupun mesti repot naik turun angkot, membawa perlengkapan si kecil dengan segala printilan-nya, tak sempat mencatat isi kajian dengan rapi.. Bahkan baginya, menyimak kajian dengan tenang adalah sesuatu yang sangat langka sekaligus sangat berharga. :)
Perempuan tangguh itu, tidak mudah silau dengan dunia dan pesonanya. Ia menerima pemberian suaminya dengan hati lapang dan qana’ah. Selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. Baginya tak ada prinsip batil semacam, “Ada uang Abang disayang, tak ada uang Abang ditendang…” Karena cintanya tulus, bukan cinta atas dasar materi.
Ia setia mendampingi suaminya, menenangkan hati sang suami ketika sedang gundah, menguatkannya ketika sedang lemah. Seperti setianya Ummul Mukminin Khadijah radliyallaahu ‘anha mendampingi Rasulullaah Shalallaahu’alaihi wa Sallam dalam mengemban dakwah Islam yang penuh perjuangan selama periode Mekkah. Pantaslah jika Rasululllah mengenangnya, membelanya dan tetap mencintainya bahkan ketika ia telah lama meninggal dunia.. Khadijah, adalah wanita teristimewa di hati Rasulullah.
Perempuan tangguh itu, bukan mereka yang selalu merasa kurang dengan apa yang diberikan suami. Bahkan menuntut suami untuk memenuhi SEGALA kebutuhan hidupnya. Baik yang butuh atau sekadar ingin. Ia mampu mengekang hawa nafsunya dari hal-hal yang tidak perlu.
Seandainya memang kondisi keluarganya dalam keadaan benar-benar kekurangan. Sebelum menuntut suami untuk mencari tambahan penghasilan, ia justru berpikir bagaimana cara meringankan bebannya mencari nafkah, tanpa keluar dari koridor syari’at. Atau berpikir lebih keras lagi untuk merancang ulang pengeluaran sehingga akhirnya cukup.
Perempuan tangguh itu, mereka yang berjuang sekuat tenaga memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya kala sang suami tiada lagi di sisi. Mereka begitu malu untuk menadahkan tangan, meminta-minta. Baginya, jauh lebih baik memeras keringat dan bersusah payah daripada harus menjadi beban orang lain. Tak apa ia menjadi pembantu rumah tangga sekalipun, asalkan halal dan tak melanggar syari’at.
Perempuan tangguh itu, berbahagia dengan kodratnya sebagai Ibu dan Istri. Ia bahagia tinggal di rumahnya, mengurus anak-anak, mendidik mereka, merapikan rumah yang tak pernah rapi, mengerjakan tugas rumah tangga yang seakan tak pernah ada habisnya. Berusaha mengatur waktu agar semua pekerjaan tuntas.. agar makanan siap terhidang tepat pada saatnya. Walau itu artinya harus bekerja 24 jam non stop . Dengan ikhlas, tanpa mengeluh. :)
Seperti zuhudnya putri Rasulullaah Fathimah
“Maukah aku beritahukan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta? Beberapa kata yang diajarkan Jibril padaku, kalian berdua bertasbih setiap selesai shalat 10 kali, bertahmid 10 kali dan bertakbir 10 kali. Dan, apabila kalian berdua berangkat tidur, kalian berdua bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali.”
Perempuan tangguh itu, mereka yang ketika kehidupan terasa begitu sempit, jiwa begitu terasa rapuh. Tidak mencari siapapun selain-Nya. Fafirru ilallaah. Ia akan berlari kepada Allah. Pada-Nya ia mengadukan segala kesusahan dan kesedihannya. Dengan bersenjatakan do’a dan keyakinan bahwa jika Allah yang memberi kesulitan, maka hanya Dia saja satu-satunya yang akan memberi kelapangan.
Perempuan tangguh itu perempuan yang hebat. Dengan sifat dan tabiat wanita yang selalu ingin dimanja dan dimengerti, mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri saat kesedihan terasa menyesakkan dada. Menghapus air mata dengan tangan sendiri. Untuk kembali menata hidup dan tersenyum lagi. Bukan karena mereka tidak punya hati, tapi mereka melihat hidup dari kacamata yang berbeda dengan para wanita kebanyakan. Ujian yang datang justru membuat mereka semakin kuat. Menempa mereka menjadi pribadi tangguh dan tahan banting. Lagipula, apa namanya dunia tanpa cobaan. Apa namanya hidup tanpa ujian? Dan bukankah Allah tidak akan memberikan ujian di luar kesanggupan?
“Tidaklah Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu Dia mencabutnya dan sang hamba pun bersabar atasnya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan menggantikannya dengan yang lebih baik.” (Umar bin Abdul ‘Aziz)
Perempuan tangguh, perempuan hebat, perempuan luar biasa.
Sungguh, kuingin mampu menjadi sepertimu…
Nasihat Ayah Dalam Perjalanan
"Nak, suatu saat nanti kau akan mampu pahami, betapa majemuknya jalan hidup yang dilalui seseorang. Seperti hari ini, kau berpisah dengan Ayah menuju terminal yang berbeda. Namun, pada akhirnya kita menuju pada satu pemberhentian terakhir. Seberapapun sering engkau transit, ingat, kau selalu punya tujuan akhir. Jaga dirimu baik-baik. Tidak selamanya engkau dalam penjagaan Ayah. Siapapun nantinya (manusia) yang menjagamu, semoga nantinya ia menemanimu dengan baik menuju terminal akhir. Semoga, kita dipertemukan lagi disana, di terminal akhir.”
Kata seorang Ayah kepada anak gadisnya yang terus bertanya. “Mengapa kita berhenti dulu disini? Mengapa kita mengambil rute ini? Mengapa ada penumpang yang naik, beserta itu pula ada yang turun? Mengapa begini, mengapa begitu, Yah?”
Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepala. Berpura-pura memahami maksud Ayah. Padahal, jauh di kedalaman hatinya, ada definisi yang belum tercerna sempurna. Seperti bolus-bolus dalam perut ruminansia, yang suatu waktu dimuntahkan kembali dan mewujud tanda tanya.
"Ayah, apakah kita satu tujuan? Apakah kita menuju satu terminal?"
Dan sang Ayah pun terus berbicara. Bergumam dengan dirinya sendiri. Sesekali tercenung, bahwa gadis kecilnya sudah sebesar ini. Dan dengan malu-malu, dalam benak Ayah tersembul rahasia, bahwa anak perempuan tetaplah anak perempuan. Gadis kecil Ayah, sampai kapanpun.
"Siapapun nantinya (manusia) yang menjagamu, semoga nantinya ia menemanimu dengan baik menuju terminal akhir."
Ayah terus mengulang-ulang kalimat itu. Sementara gadis kecil yang ia genggam erat tangannya, terus menganggukkan kepala. Entah benar-benar paham, atau barangkali hanya berpura-pura.
Rabu, 02 Oktober 2013
Perjalanan Hidup Manusia
Kelak, akan ada hari. Dengan izinNya, dimana Allah menjadi saksi. Saat terlingkar sebuah ikatan suci, aku memberinya nama "Mitsaqan Ghaliza", yang menghiasi jemari, walau aku pasti tak akan sesempurna istri nabi.
Namanya istimewa, "Mitsaqan Ghaliza". Bagiku kalimat itu memiliki kesakralan tersendiri, begitu suci, karena disaat itu aku telah berhasil menumbangkan keakuanku, dan ketakutanku tentang itu, mungkin aku kaku dan dingin terhadap rasa atau percakapan, namun ketika aku menyayangi, aku yakin bukan tanpa sebab, semua takdir pilihanNya, dan dia berhasil mencairkan dan meyakinkan rasa, seakan berkata, "tenanglah bersamaku, dengan izin allah, hingga akhir akan baik-baik saja."
Mitsaqan Ghaliza, sebuah kalimat yang memiliki arti luar biasa, tidak hanya secantik namanya, namin juga sekokoh ikrar yang digenggamnya. Ia adalah perjanjian yang kokoh, dalam kesakralan suci yang mengikat dua hati. Suatu perjanjian agung yang berat, seberat pengorbanan kasih sayang seorang qowwam, bagiku. Bagaimana tidak? Karena saat ijab qabul terlafadz, gemuruh seakan mengguncang langit Arsy-Nya, karena telah terucap perjanjian dan tanggungjawabnya di hadapan Allah, dengan disaksikan para malaikat, dan di aamiin-kan oleh seluruh hamba Allah yg menjadi saksi. Allahu Akbar!
Maka bagiku, betapa tinggi derajat qowwam, karena jikapun makmum mampu menghisap darah dan darah dari pada hidung sang qowwam, itu belum cukup menebus semua pengorbanan kasih sayang yang diberikannya. Maka tidak salah menurutku jika Allah meletakkan surga seorang istri di keridhoan suami, karena jangankan mencium surga, Allah tidak akan izinkan jika seorang istri durhaka pada suaminya, selama suaminya menyuruhNya dalam agama dan kebaikan. Naudzubillah yaa rabb :')
Begitu agung janji seorang qowwam, seandainya setiap makmum memahamkan, bagaimana tidak? Kelak seorang qowwam akan bertanggung jawab, atas makmum dan anak-anak perempuannya di hadapan Allah. Masya Allah :')
Teringkat olehku sebuah hadits,
"Tidak dibenarkan manusia, dan kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, Allah akan memerintah wanita sujud kepada suaminya, karena besarnya jasa (hak) suami terhadap istrinya."
(HR. Ahmad)
Mitsaqan Ghaliza, manis namun sangat filosofis, bahkan dalam al qur'an namanya disebut sebanyak tiga kali, di dalam QS. 33: 7, QS. 4: 154, QS. 4: 21. Subhanallah! :')
Kelak akan terpelajari bahwa kebahagiaan orang tua bukan diukur dari seberapa besar materi yang kita beri, melainkan sebuah kebahagiaan dalam hati yang tiada dapat terukur dengan materi. Sebuah air mata indah yang mengalir dari mata ayah, dan ibu. Sebuah simpul senyum kebanggaan yang teramat karena dapat mengantarkan sang putra kesayangan menuju pelaminan, serta rasa haru yang hadir teramat sangat karena menyerahkan dan menikahkan seorang putri tercinta dengan seseorang pilihan atas ridhaNya untuk menggantikan tugas mulianya sebagai seorang ayah, kepada seorang laki-laki muda yang dicintai putriNya karenaNya. Pada ibu, adakah pemandangan yang lebih indah, selain melihat putra-putri kesayangannya tersenyum bahagia dia atas altar suci karena kasih sayang rabbNya?
Dan setelahnya, akan terdapat perubahan besar bak mahakarya agung sang maha cinta, seorang gadis kecil dalam pandangan ayah ibunya, yang selama ini berada dalam kasih sayang orang tua tercintanya, yang selama ini menghabiskan hari-hari indah bersamanya, akan berubah menjadi perempuan dewasa nan tangguh, menjadi seorang istri, menjadi seorang makmum dan sahabat bagi suami, dan menjadi tokoh pendidik pertama bagi anak-anaknya, mengabdikan tugas mulia Rabb-Nya, yang telah diamanahkan terhadapnya.
Berapa sakral dan istimewanya, Mitsaqan Ghaliza :')
Setelahnya bukan berarti tanpa uji, teringat sebuah tausiyyah "Bahwa cinta sejati tak akan berhenti pada sekali uji." Dan disaat itu seakan diberikan sebuah soal ujian, apakah diselesaikan ataukah menyerah? Pada jiwa yang mencintai karenaNya, tidak akan ada kata menyerah. Karena terlalu banyak rindu yang Allah titipkan pada cerita yang sedang dijalani.
Disaat jiwa tak dapat menjabarkan kecemasan yang membelenggu, ketika cemburu menghampiri, dan keterbatasan yang tidak selalu bisa mengawasi saat indra peraba dan penglihatan menjadi jeda, maka bagiku disaat nanti, aku hanya bisa menyampaikannya ke Arsy Penguasa Hati, agar dia yang menjaga hatimu, untuk diriku.
Dan kelak, aku memilih untuk mencintai dengan hati-hati, dimana setiap anak tangganya aku berjalan perlahan namun pasti, tapak-tapak langkah berbalut do'a pada ilahi.
Aku teringat, ada sebuah pepatah mengatakan, "Pejuang sejati adalah ia yg tau, kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus diam menyusun strategi." Dan jika aku diam, percayalah bukan karena aku marah atau jemu, alasanku adalah karena aku ingin sesekali bertindak sebagai murid terbaik, untuk itu aku harus mempelajarimu, aku harus diam dan fokus memperhatikanmu. Memperhatikan ketegasanmu, nasehatmu, sedihmu, ataupun senyu bahagiamu. Dan aku paham, setiap orang suka di dengarkan, begitupun denganmu, bisa jadi itu sebuah nasihat, pesan, komentar, marah, dan kisah perjalanan hidupmu, ya saat itu aku harus diam, menciptakan hening, menghitung jumlah bicara agar aku tak kehilangan fokus dan makna, sebab bagiku mengecewakanmu adalah pantangan, walaupun tiada mungkin aku sempurna, setidaknya aku mencoba untuk terus belajar.
Dan saat itu bagiku anugerahmu adalah kelebihan bagiku, dan kekuranganmu akan menjadi hal yang membuatmu levih kucintai, sebab kekuranganmu bagaikan debu yang menerpa mataku, ketika aku berkedip, maka air mata akan menetralisir, dan kemudian debu itu luruh dan berakhir. Sebab kekuranganmu bukan masalah besar, karena aku sadar, tentu bukan kau orang yang diinginkan untuk melingkarkan cincin di jari manisku, yang kusebut tadi Mitsaqan Ghaliza, jika aku tak bisa mencintai keseluruhanmu. Sebab di saat itu, hanya dimataku saja kamu berwujud malaikat, tapi di dunia nyata kamu tetaplah manusia yang bukan tanpa cacat, dan saat itu ada porsi imbang antara mata dan nyata, dan yang kucintai adalah seorang manusia, bukan malaikat, jadi tak perlulah sempurna tanpa cacat, karena akupun bukan seorang bidadari.
Dan saat itu aku berharap, tetaplah disisiku, aku ingin bahagia dengan belajar membahagiakanmu, menjadi bagian kehidupanmu, bukan sekedar angan-angan ataupun sebuah kenangan.
Dan tak melulu soal materi, ada saatnya nanti rumah sederhana menjadi serupa syurga, karena hati adalah rumah terbaik yang kita punya, dan bisa tinggal dihatimu saja itu sudah merupakan suatu hal istimewa. Saat terlelah, akan ada saat berusaha untuk menjadi penyejuk pandangan, yang tertatap lekat berbagi kisah sebelum mata terpejam, agar tidur dalam tenang, dengan berbagi dan meraih solusi. Dan saat pagi menjelang, akan selalu ada memori yang terpampang di retinaku.
Di saat kaki berlutut, dan keningku menyentuh bumi, disaat itulah aku berdo'a agar selalu kekal hingga jannahnya dan terjaga, karena bukan dalam waktu singkat, kelak ada masanya kau menjadi bahuku saat aku terpuruk, menjadi penenang saat aku gelisah, menjadi penyeka air mata kala air bumi harus tumpah.
Langganan:
Postingan (Atom)


