tersebutlah disuatu zaman dimana terdapant peri yang hidup dalam kesunyian, ketika sayapnya lelah untuk mengitari nyata, duduk bersimpuh dalam sunyi yang mencekap, bersenda bersama malam yang menghibur dalam kebisuan. tetes air matanya bak rinai hujan yang menetes dalam tiap rintiknya, melewati jelaga waktu, menyandarkan sayap lelahnya, sejenak, sebelum kembali terbang mengitari nyata dan berimaji.
ketika sayapnya terluka, sang peri nampak lemah, matanya sayu, tubuhnya letih, bahkan semangatnya pun seakan tak mampu menjadi energinya, seperti biasa, nampak ceria dan menghibur sekelilingnya. ketika pupus menyanderanya, sang peri bagaikan hidup dalam jeruji yang tak nampak, namun membuatnya sulit bergerak, lemah dan melemah.
terdampar semakin parah dalam bukit tak bernama, sorotan mata nanar seakan makin membunuhnya, mematikan sudut demi sudut asanya, gulita bak petir yang menyambar, bahkan hingga tak sanggup terbangkan sayapnya, sayap kecil sang peri yang penuh semangat, memudar tak bersisa.
hingga suatu hari, ketika asa kian melemah, sayapnya kian ringkih, datanglah suatu yang merubah perlahan demi perlahan, ia adalah HARAPAN, harapan yang membuat energi untuk terus bertahan, menjadi penyeka kala lelahnya kembali hadir, harapan yang indah, indah dalam pengertian indah dalam hakikat sang peri.
harapan yang membuatnya tetap tersenyum, bertahan, dan mengubah segalanya menjadi indah, harapan yang berasal dari pikiran, atas segala rasa yang hadir, dimana rasa itu sebagai tamu, dan paradigma sebagai pilihan, tapi berusahalah untuk memberi yang terbaik, meski terkadang berbagai rasa itu hadir, tapi yakinlah itu yang terbaik, belajarlah dari alkisah sang peri, dalam hidup tak ahyal diliputi berbagai rasa, salah satunya kecewa, namun tetaplah mencoba untuk memberikan yang terbaik, berfikirlah ketika kita dikecewakan, mungkin saja sakit yang kita rasa, tapi berusahalah mengubah paradigma, untuk tidak mentransfer kecewa itu kembali kepada sekeliling kita, namun berusahalah memberikan hal positif, dengan ikhlas, bahasa universal itu akan menyampaikan, apa, knp, siapa, dan untuk apa kita ada, bersyukur atas waktu yang masih dipercayakan, dan berusahalah ujntuk tetap mengusahakan yang terbaik dan terindah.
mengubah sunyi menjadi ceria, merubah sakit menjadi sehat, merubah lelah menjadi semangat, merubah menjadi sesuatu yang berarti, hari ini, esok, sampai nanti, batas waktu kita untuk beristirahat dari kelelahan :)
Wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah
seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kaget? Sama seperti Siti Fatimah
ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.
Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah
pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga
ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga
pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui
rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin
bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat
kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya
yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah.
Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek
meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah
Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.
Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia
apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut
diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba.
Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah.
Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun
diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah
karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita
tersebut.
Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti
dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir
tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga.
Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu
tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk
memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang
disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis
pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam.
Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai
sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau
tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak,
maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut
kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku.
Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh
hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri
yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan
masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi
kepada seorang suami yang sholeh.”
Subhanallah.
